Selasa, 01 Juni 2010

Pengaruh MWD dan Muscle Energy Technique Terhadap Peningkatan Fleksibilitas Lumbal Pada Penderita Nyeri Punggung Bawah di RSUD. Lasinrang Pinrang

Oleh : Sudaryanto, S.ST.Ft & Jasmah Djabar, S.ST.Ft : 2009

ABSTRAK
Nyeri punggung bawah bukanlah merupakan suatu penyakit melainkan gejala dari sekelompok penyakit yang terdapat pada punggung bawah yakni Th12-L1 sampai lumbosacral joint, bahkan sampai hip joint. Nyeri punggung bawah dapat disebabkan oleh berbagai gangguan, dalam hal ini disebabkan oleh gangguan pada facet joint dan muskular yang umumnya menyebabkan keterbatasan gerak dan spasme otot erector spine.
Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh MWD dan Muscle Energy Technique terhadap peningkatan fleksibilitas lumbal pada penderita nyeri punggung bawah. Penelitian ini dilaksanakan di Poli Fisioterapi RSUD. Lasinrang Pinrang, dengan responden adalah penderita nyeri punggung bawah yang berjumlah 15 orang sesuai dengan kriteria inklusi yang ditetapkan oleh peneliti.
Berdasarkan distribusi usia, hasil penelitian menunjukkan bahwa paling banyak responden yang berusia 51 – 57 tahun yaitu sebanyak 5 orang (33,3%) sedangkan responden yang berusia 30 – 36 tahun memiliki jumlah terkecil yaitu 1 orang (6,7%). Berdasarkan distribusi jenis kelamin, hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak responden perempuan yaitu 8 orang (53,3%) daripada responden laki-laki yaitu 7 orang (46,7%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian MWD dan Muscle Energy Technique dapat menghasilkan peningkatan ROM fleksi lumbal dengan rata-rata peningkatan sebesar 3,28. Sedangkan hasil Uji Wilcoxon diperoleh nilai p = 0,001 < 0,05 yang berarti bahwa pemberian MWD dan Muscle Energy Technique dapat menghasilkan peningkatan ROM fleksi lumbal pada penderita nyeri punggung bawah.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemberian MWD dan Muscle Energy Technique dapat menghasilkan peningkatan ROM fleksi lumbal pada penderita nyeri punggung bawah sehingga disarankan untuk memilih Muscle Energy Technique sebagai modalitas utama pada kondisi nyeri punggung bawah akibat gangguan pada facet joint dan muskular.

LATAR BELAKANG MASALAH
Nyeri punggung bawah merupakan salah satu gejala yang paling sering terjadi di masyarakat umum, dan umumnya merupakan occupational LBP (nyeri punggung bawah akibat pekerjaan). Beberapa penelitian melaporkan bahwa nyeri punggung bawah umumnya terjadi pada pekerja atau karyawan yang bekerja dalam posisi duduk, berdiri, pengemudi, dan pekerjaan berat lainnya. Nyeri punggung bawah pada pengemudi kendaraan terutama disebabkan oleh posisi duduk mengemudi selama berjam-jam dengan postur yang jelek, vibrasi mobil, dan stress mental saat mengemudi (Masabumi et al, 2008).
Berdasarkan fakta, nyeri punggung bawah menjadi problem yang besar di Inggris, dan umumnya disebabkan oleh adanya perubahan postur (postur yang jelek). Dikatakan problem yang besar karena sebagian besar orang yang nyeri punggung bawah mengalami intensitas nyeri sedang sampai berat. Pada umumnya mereka yang mengalami nyeri punggung bawah memiliki pekerjaan manual yang berat yaitu sering melakukan aktivitas mengangkat barang/objek yang berat dan secara signifikan lebih banyak kehilangan waktu kerja akibat nyeri punggung bawah (Bandolier, 2009). Berdasarkan survey Third European menunjukkan bahwa diantara seluruh pekerja terdapat sekitar 54% petani dan nelayan yang mengalami nyeri punggung bawah, 48% pada konstruksi bangunan atau pekerja/kuli bangunan, 41% pada pekerja sosial dan kesehatan, 37% pada pekerja transportasi (supir) dan komunikasi (Navid, 2009).
Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa nyeri punggung bawah umumnya disebabkan oleh faktor mekanik yang mencakup kebiasaan postur jelek saat bekerja, mengangkat atau memindahkan barang/obyek yang berat atau yang salah, dan gerakan yang menimbulkan overstrecth tiba-tiba. Hasil observasi peneliti di RSUD. Lasinrang Pinrang mulai bulan Januari sampai Maret 2009 ditemukan kasus nyeri punggung bawah dengan keterbatasan gerak fleksi lumbal akibat nyeri dan spasme otot erector spine lumbal sebanyak 35 kasus.
Muscle energy technique merupakan salah satu teknik alternatif untuk kondisi akut sindrome pada spine dimana manipulasi vertebra tidak cocok diterapkan. Kemudian penambahan terapi MWD dapat memberikan hasil terapi yang optimal karena memiliki efek thermal terhadap jaringan. Hasil penelitian Sudaryanto (2004) tentang pengaruh Muscle Energy Technique dengan SWD terhadap penurunan nyeri akibat NPB menunjukkan bahwa Muscle Energy Technique dapat menghasilkan penurunan nyeri yang bermakna dengan rata-rata penurunan nyeri sebesar 46,9 dan nilai p = 0,005 < 0,05. Apakah penurunan nyeri yang dihasilkan oleh pemberian SWD dan Muscle Energy Technique dapat mempengaruhi peningkatan fleksibilitas lumbal, hal ini yang membuat peneliti tertarik untuk mengetahui seberapa besar pengaruh MWD dan MET terhadap peningkatan fleksibilitas lumbal akibat kasus nyeri punggung bawah maka peneliti tertarik mengambil judul tentang “Pengaruh MWD dan Muscle Energy Technique terhadap peningkatan Fleksibilitas Lumbal pada penderita nyeri punggung bawah di RSUD. Lasinrang Pinrang”.

RUMUSAN MASALAH
“Bagaimana pengaruh MWD dan Muscle Energy Technique terhadap peningkatan Fleksibilitas Lumbal pada penderita nyeri punggung bawah di RSUD. Lasinrang Pinrang ?”

TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui distribusi penderita nyeri punggung bawah di RSUD. Lasinrang Pinrang menurut jenis kelamin dan umur.
2. Untuk mengetahui perubahan rerata Fleksibilitas Lumbal setelah diberikan intervensi MWD dan Muscle Energy Technique
3. Untuk mengetahui pengaruh MWD dan Muscle Energy Technique terhadap peningkatan Fleksibilitas Lumbal pada penderita nyeri punggung bawah di RSUD. Lasinrang Pinrang

METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment dengan menggunakan desain penelitian pretest - posttest one group design
Desain penelitian :
O1 --------------- X1 ------------------ O2
Keterangan :
O1 : Pre test
X1 : Pemberian MWD dan MET
O2 : Post test
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian di lakukan di Poliklinik Fisioterapi RSUD. Lasinrang Pinrang, mulai bulan Juni – Agustus 2009.
C. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah semua pasien rawat jalan yang datang berkunjung ke Poliklinik Fisioterapi RSUD. Lasinrang Pinrang.
Sampel penelitian adalah semua pasien rawat jalan yang mengalami keluhan nyeri punggung bawah dan memenuhi kriteria inklusi yang ditetapkan oleh peneliti.
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusif yang ditetapkan oleh peneliti. Jumlah sampel yang diperoleh dikelompokkan kedalam 1 kelompok perlakuan yang diberikan intervensi MWD dan MET. Adapun kriteria inklusinya adalah sebagai berikut :
1. Pasien nyeri punggung bawah yang mengalami keterbatasan fleksi.
2. Berusia > 25 tahun
3. Tidak memiliki riwayat fraktur dan protrusi diskus (HNP)
4. Bersedia menjadi responden.
D. Variabel Penelitian
1. Variabel Terikat (variabel Dependent) : Fleksibilitas Lumbal
2. Variabel Bebas (variabel Independent) : MWD dan Muscle Energy Technique
E. Definisi Operasional
1. Muscle Energy Technique adalah suatu teknik mobilisasi lumbal melalui kontraksi isometrik pada otot erector spine, piriformis, gluteus medius et minimus. Dosis yang digunakan adalah :
F = 2 x seminggu
T = Mobilisasi Lumbal
T = 5-7 detik kontraksi isometrik, 3x repetisi mobilisasi
2. Micro Wave Diathermy adalah suatu bentuk terapi yang menghasilkan efek thermal pada jaringan otot sehingga dapat terjadi penurunan spasme otot. Dosis yang digunakan :
F = 2 x seminggu
I = 120 Watt
T = metode fleksiplode
T = 10 menit
3. Fleksibilitas Lumbal adalah kemampuan trunk khususnya lumbal untuk membungkuk semaksimal mungkin. Untuk mengukur Fleksibilitas Lumbal digunakan teknik Schober metode III dengan menggunakan alat bantu meteran.
Kriteria Obyektif adalah :
Perubahan Fleksibilitas, jika nilai selisih fleksi lumbal post test lebih besar daripada nilai selisih fleksi lumbal pre test.

F. Hipotesis
Ho : Tidak ada pengaruh MWD dan Muscle Energy Technique terhadap peningkatan fleksibilitas lumbal.
Ha : Ada pengaruh MWD dan Muscle Energy Technique terhadap peningkatan fleksibilias lumbal.

G. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data melalui data primer yaitu peneliti langsung mengambil data dengan cara mengukur fleksibilitas lumbal pada setiap sampel (data pre test dan post tes).

H. Analisa dan Pengolahan Data
Teknik pengolahan dan analisa data menggunakan bantuan program SPSS (Statistical Product For Service Solution) dengan Uji Wilcoxon.
I. Instrumen Penelitian
1. Prosedur Pelaksanaan Muscle Energy Technique
2. Blanko Pengukuran Fleksibilitas Lumbal
3. Meteran
4. Alat tulis menulis

HASIL PENELITIAN
1. Gambaran Responden
Tabel 5.1
Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Usia
Kelompok Usia f %
30 – 36 tahun 1 6,7
37 – 43 tahun 3 20
44 – 50 tahun 4 26,7
51 – 57 tahun 5 33,3
58 – 65 tahun 2 13,3
J u m l a h 15 100

Tabel diatas menunjukkan bahwa paling banyak responden yang berusia 51 – 57 tahun yaitu sebanyak 5 orang (33,3%), dan responden yang berusia 30 – 36 tahun memiliki jumlah terkecil yaitu sebanyak 1 orang (6,7%).

Tabel 5.2
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin f %
Laki-laki 7 46,7
Perempuan 8 53,3
J u m l a h 12 100
Tabel diatas menunjukkan bahwa lebih banyak responden perempuan yaitu 8 orang (53,3%) daripada responden laki-laki yaitu 7 orang (46,7%).
2. Analisis Univariate
Data penelitian diperoleh melalui pengukuran langsung pada setiap responden yaitu pengukuran fleksibilitas lumbal dengan teknik Schober metode I. Data yang diperoleh adalah nilai fleksibilitas lumbal pre test dan post test, yang akan didistribusikan pada tabel dibawah ini.
Tabel 5.3
Distribusi Nilai ROM Fleksi Lumbal Pada Pre test dan Post test
Kondisi Nilai Rerata Standar Deviasi n
Pre test 2,827 0,880 15
Post test 6,107 1,396
Selisih 3,280 0,870
Tabel diatas memperlihatkan nilai rerata pre test yaitu 2,827 + 0,880 dan nilai rerata post test yaitu 6,107 + 1,396 dengan selisih nilai rerata adalah 3,280 + 0,870. Perubahan nilai rerata yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan fleksibilitas lumbal setelah diberikan MWD dan MET. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian MWD dan MET dapat menghasilkan peningkatan fleksibilitas lumbal, dengan rata-rata peningkatan sebesar 3,280.
3. Analisis Inferensial
Untuk menganalisis data pre test dan post test digunakan Uji Wilcoxon dengan tujuan untuk mengetahui kemaknaan dari suatu perlakuan dalam satu kelompok sampel. Adapun hasil Uji Wilcoxon dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 5.4
Hasil Analisis Uji Wilcoxon
Kondisi N Mean SD Beda Rerata Ranks Z p
- Ranks + Ranks Ties
Pre test 15 2,827 0,880 3,28 0 15 0 -3,413 0,001
Post test 15 6,107 1,396
Tabel diatas menunjukkan hasil Uji Wilcoxon yang terdiri dari nilai Ranks dan nilai Z. Berdasarkan nilai ranks, diperoleh angka 15 pada positif ranks yang berarti bahwa semua responden mengalami peningkatan fleksibilitas lumbal setelah diberikan MWD dan MET. Kemudian dilihat dari nilai Z diperoleh nilai sebesar 3,413 dengan nilai p = 0,001 < 0,05 yang berarti bahwa ada perbedaan yang bermakna setelah diberikan perlakuan dengan peningkatan sebesar 3,28. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian MWD dan MET dapat menghasilkan pengaruh yang bermakna terhadap peningkatan fleksibilitas lumbal pada penderita nyeri punggung bawah.

PEMBAHASAN
Nyeri punggung bawah atau Low back pain (LBP) adalah nyeri di daerah punggung bagian bawah dan dapat menjalar ke kaki terutama bagian sebelah belakang dan samping luar. Nyeri punggung bawah tidaklah merupakan suatu penyakit melainkan gejala dari sekelompok penyakit yang terdapat pada punggung bawah yakni Th12-L1 sampai lumbosacral joint, bahkan sampai hip joint. Nyeri punggung bawah dapat menyerang pada usia remaja sampai usia tua. Menurut John E. Murtagh (1997), nyeri punggung bawah umumnya terjadi pada semua golongan usia mulai usia 16 tahun s/d 80 tahun terutama pada usia pertengahan (30 tahun keatas). Kemudian menurut Syaiful Saamin (2005), nyeri punggung bawah mencapai puncaknya pada usia 40 tahun bagi pria dan 10 tahun kemudian bagi wanita. Pada usia tua telah mengalami proses degenerasi dimana segmen L4 – L5 dan L5 – S1 paling sering mengalami degenerasi akibat regio tersebut paling besar menerima beban sehingga degenerasi yang terjadi pada segmen tersebut sering menimbulkan nyeri punggung bawah. Pendapat tersebut sesuai dengan gambaran responden penelitian ini (tabel 5.1) yang menunjukkan bahwa responden yang berusia 44 tahun keatas paling banyak yang mengalami nyeri punggung bawah.
Kemudian menurut Ruth Sapsford (1999), wanita terutama ibu rumah tangga yang melakukan aktivitas pekerjaan di rumah cenderung mengalami nyeri punggung bawah daripada laki-laki. Wanita terutama ibu rumah tangga sering melakukan aktivitas pekerjaan di rumah dengan postur yang jelek. Pada umumnya, wanita sering melakukan aktivitas pekerjaan di rumah yang melibatkan trunk saat mengangkat/memindahkan barang. Kebiasaan postur jelek yang sering dilakukan oleh wanita banyak menjadi faktor penyebab terjadinya nyeri punggung bawah. Pendapat ini sesuai dengan gambaran responden penelitian ini (tabel 5.2) yang menunjukkan bahwa lebih banyak responden perempuan yang terkena nyeri punggung bawah daripada responden laki-laki.
Berdasarkan penyebabnya nyeri punggung bawah terdiri atas diskogenic pain, radikular pain, facet joint pain, sacroiliaca pain, dan muskular pain. Dalam penelitian ini, yang dijadikan responden adalah nyeri punggung bawah akibat gangguan pada facet joint (termasuk spondyloarthrosis) dan gangguan pada muskular. Kedua gangguan tersebut dapat menyebabkan keterbatasan gerak dan spasme otot erector spine lumbal. Problem tersebut akan menghambat gerakan fleksi dan ekstensi lumbal sehingga aktivitas fungsional lumbal juga akan terhambat.
Muscle Energy Technique (MET) menggambarkan sebagai salah satu teknik yang melibatkan kontraksi otot secara volunter dalam suatu pola yang terkontrol pada segmen-segmen yang telah ditentukan dengan jelas dan terlokalisir, yang kemudian dimobilisasi dengan counterforce dari terapis. Teknik ini dapat mengatasi problem keterbatasan gerak dan spasme pada otot erector spine. Metode muscle energy menggunakan metode kontraksi otot dari pasien yang diikuti dengan relaksasi dan kemudian peregangan pada otot antagonis dan agonis. Metode ini merupakan bentuk mobilisasi secara tidak langsung pada suatu sendi yang terbatas. Mobilisasi pada sendi adalah penting karena sendi mengalami kekakuan dan mungkin terkunci akibat otot-otot yang bekerja pada sendi tersebut menjadi abnormal kontraksi (dalam keadaan spasme). Adanya abnormal kontraksi dari otot akan menimbulkan nyeri hebat dan menciptakan suatu “penghambat gerakan” terhadap sendi yang dilewatinya (John E. Murtagh, 1997).
Muscle Energy Technique yang menggunakan metode isometrik kontraksi – relaksasi – stretching/mobilisasi dapat menurunkan spasme otot melalui efek autogenic inhibisi dan reciproke inhibisi. Dalam mekanisme inverse stretch refleks atau autogenic inhibisi bahwa proses kontraksi maksimal akan diikuti dengan relaksasi, dan dalam mekanisme reciproke inhibisi bahwa kontraksi otot agonis akan diikuti dengan relaksasi otot antagonis (Carolyn Kisner, 1996. John E. Murtagh, 1997). Dengan efek tersebut, maka otot akan mengalami penurunan spasme sehingga mudah dilakukan stretching atau mobilisasi pada vertebra lumbal. Mobilisasi yang dilakukan setelah kontraksi isometrik adalah mobilisasi kearah fleksi – lateral fleksi/rotasi lumbal, dimana teknik mobilisasi tersebut dapat melepaskan kekakuan pada intervertebral joint (facet joint) sehingga terjadi peningkatan ROM pada lumbal. Sedangkan pemberian Micro Wave Diathermy (MWD) sebelum intervensi MET dapat meningkatkan elastisitas jaringan dan menurunkan ketegangan (spasme otot) melalui efek thermal yang dihasilkan, sehingga aplikasi MET dapat menghasilkan efek terapi yang lebih optimal. Hal ini terbukti dari hasil penelitian ini (tabel 5.3 dan 5.4) yang menunjukkan bahwa pemberian Micro Wave Diathermy (MWD) dan Muscle Energy Technique (MET) dapat menghasilkan peningkatan ROM Fleksi secara bermakna, dengan rata-rata peningkatan sebesar 3,28.

KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan dan hasil penelitian diatas, maka dapat disimpulkan dibawah ini sebagai berikut :
1. Berdasarkan distribusi usia menunjukkan bahwa paling banyak responden yang berusia 51 – 57 tahun, dan berdasarkan distribusi jenis kelamin menunjukkan bahwa lebih banyak responden perempuan daripada laki-laki.
2. Pemberian MWD dan MET dapat menghasilkan peningkatan fleksibilitas lumbal secara bermakna pada penderita nyeri punggung bawah, dengan rata-rata peningkatan sebesar 3,28

DAFTAR PUSTAKA
Anthony H. Wheeler, 9 Juli 2007. Patophysiology of Chronic Back Pain, http://www. emedicine.com/article/1144130-overview, akses tanggal 30 Maret 2009.
Bandolier, 2009. Back Pain Evidence Based Thinking About Health Care, http://www.medicine.ox.ac.uk/band19/b19-1.html, akses tanggal 30 Maret 2009.
Carolyn Kisner, Lynn Allen Colby, 1996. Therapeutic Exercise Foundations And Techniques, Third Edition, F.A. Davis Company, Philadelphia
Cynthia C. Norkin, D. Joyce White, 1995. Measurement Of Joint Motion A Guide to Goniometry, Edition 2, F.A. Davis Company, USA.
I. A. Kapandji, The Physiology of The Joint, Volume 3, Churchill Livingstone, New York, 1974.
John E. Murtagh, Clive J. Kenna, Back Pain and Spinal Manipulation, Second Edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997.

Masabumi Miyamoto et al, 2008. Epidemiological Study of Low Back Pain and Occupational Risk Factors among Taxi Drivers, http://www.jniosh.go.jp/en-pdf/IH-46-2-112.pdf, akses tanggal 29 Maret 2009.
Nancy Hamilton, Kathryn Luttgens, Kinesiology Scientific Basis of Human Motion, Mc Graw Hill, New York, 2002.
Navid, 2009. The Incidence of Back Pain, http://www.zimmerspine.eu/global/action, akses tanggal 30 Maret 2009.
Robin McKenzie, Treat Your Own Back, Spinal Publications, New Zealand LTD., 1985.
Soekidjo Notoatmodjo, 2002. Metode Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
Susan J. Hall, 2003, Basic Biomechanic, Fourth Edition, McGraw-Hill Company, New York.
William A. Kuchera, 2007. Evidence-Based Manual Medicine A Problem-Oriented Approach, Saunders Elsevier, USA.
William E. Prentice, 2003. Therapeutic Modalaties For Sport Medicine and Athletic Training, Fifth Edition, Mc Graw Hill, New York.
Zamna Idyam, 2007. Hubungan Lama Duduk saat Perkuliahan dengan keluhan ”Low back poin”. FIK – UI. Diakses tanggal 4 Maret 2009 dari http://www.bogle.com/ceweb/conditions.

Source: Ika, 2009. Pengaruh MWD dan Muscle Energy Technique terhadap peningkatan fleksibilitas lumbal pada penderita nyeri punggung bawah di RSUD Lasinrang Pinrang, http://ikafisioterapimks.org/index.php?option=com_content&view, Di lihat pada tanggal 28 Mei 2010 jam 17.00

Terapi Latihan William Fleksion Exercise

William Fleksion Exercise adalah adalah suatu latihan yang ditujukan pada otot fleksor lumbosacral spine khususnya m. abdominalis dan gluteus maksimus.
Tujuan
Menurunkan nyeri dengan cara meningkatkan kekuatan otot abdominal dan lumbosacral serta mengulur back ekstensor.
Petunjuk
Latihan ini harus dilakukan setiap hari dan dihentikan atau tidak boleh dilakukan saat timbul rasa nyeri.
Pelaksanaan
1. Pasien rileks dan comfortable
2. Posisi awal
Pasien tidur terlentang dengan lutut bengkok dan kaki dirapatkan di bed. Lalu kontraksikan otot punggung dengan menekan bed selama 5 detik, kemudian rileks.
Ini diulang selama 10 kali latihan. tempatkan tangan di bawah punggung untuk memastikan punggung pasien datar.

Referensi: Evanjhie, 2010. Terapi latihan William fleksion exercises, http://evantherapy.wordpress.com/2010/03/31/terapi-latihan-william-fleksion-exercise/, Download file on the Friday, May 28, 2010 at 3.25 pm